Selamat datang di ideaonline.co.id
Mendekorasi Dapur Mungil
Kalau mendengar kata” mendekorasi”, pasti ingatan kita melayang ke dekorasi panggung atau pelaminan. Ya, kan? Tidak salah. Akan  terbayangkan suatu ruang atau panggung yang penuh bunga, lampu-lampu warna-warni, dan berbagai hiasan cantik-cantik. Ruangan pun tampil menarik. Betul juga!
Posted on 3 Mei 2011 by: Reni Rohmawati
Mendekorasi Dapur Mungil

Bagaimana kalau mendekorasi dapur? Apakah akan terbayangkan seperti dekorasi panggung atau pelaminan juga? Coba bayangkan dulu. Barangkali tidak sepenuh warna dan hiasan seperti pada panggung atau pelaminan, namun dapur akan terlihat lebih menarik. Apakah Anda dapat membayangkannya?

Nah, kalau kita belum dapat membayangkan tampilan dapur yang didekorasi, lihat saja hasilnya pada iDEA edisi 91/VIII/Mei 2011. Tema utama yang disajikan adalah trik-trik percantikan pada dapur mungil dan berbagai aksesori penghiasnya. Dengan dekorasi, dapur yang biasanya sekadar sebuah ruang yang fungsional, dapat menjadi daya tarik rumah Anda.

 Mendekorasi dapur tentu saja tak harus memperhatikan fungsinya. Sebagai tempat memasak, ruang ini harus memiliki peralatan untuk mengeluarkan api dan atau listrik, serta air. Unsur  api, listrik, dan air, sebaiknya menjadi pertimbangan utama dalam meletakkan elemen dekoratif.

 Tanaman hidup, misalnya, tidak disarankan untuk diletakkan dekat kompor. Sebaliknya, cukup bagus tanaman diletakkan dekat wadah cuci, walaupun peletakannya jangan sampai mengganggu aktivitas mencuci.  Area kompor lebih baik tidak diberi elemen percantikan yang rentan api. Agar area ini tampil cantik, kita dapat mendekorasi dinding belakang (back panel ) dengan mosaik atau keramik dekoratif. Boleh juga kita menyediakan peralatan memasak yang juga memiliki unsur percantikan, seperti berwarna mencolok atau bercorak menarik.

Setelah melihat majalah iDEA, pasti Anda terinspirasi untuk selalu mempercantik dapur, juga ruang-ruang lain. Dengan dekorasi, ruang jadi tak tampil monoton dan pasti memikat.

direktori terkait
Komentar
blog comments powered by Disqus