Senin, 6 Desember 2010
oleh: Reni Rohmawati
Sewaktu jalan-jalan di Brisbane, Australia, saya tertarik dengan rumah-rumah yang saya lihat. Umumnya bergaya sederhana, bukan bangunan besar dengan tembok-tembok beton menjulang. Terlihat seperti terbangun dari papan-papan kayu dan ada juga yang dari bata ekspos. Ternyata bukan papan kayu atau bata “betulan”, tapi material pabrikasi yng dibentuk menyerupai material alami itu.
Jarang terlihat rumah-rumah yang berdempetan. Umumnya setiap rumah memiliki tanah yang luas. Teman saya, Nana, yang tinggal di sana, menjelaskan bahwa setiap rumah di kota minimal harus memiliki tanah 400m2, sedangkan di pinggiran 600m2. “Itu aturannya,” ujarnya. Nana dan keluarganya, yang tinggal di pinggir kota, pun memiliki rumah dengan luas tanah sekitar 1.000m2.
Rumah atau bangunannya tak perlu terlalu luas; ruang luarnya yang penting diperhatikan. Rumah Nana dan beberapa rumah teman Nana yang saya kunjungi pun begitu; luas bangunannya paling 100m2-150m2, tapi tanahnya di atas 600m2. Jadi, setiap kita berada di rumah, terasakan suasana ruang luar yang segar, bukan ruang yang menyesakkan.
Mereka menata rumahnya dengan gaya alami, tidak berisi perabotan dan pernak-pernik yang semuanya pabrikasi. Dalam ruang keluarga, misalnya, hanya ada satu sofa dengan meja kecil kayu dan hamparan karpet atau lampit. TV atau peralatan audio-video lainnya diletakkan di atas kabinet ramping dari kayu. Suasananya terasa hangat dan santai.
Ah, bagaimana bisa kita seperti itu? Kita yang hidup di kota-kota besar di Indonesia, apalagi di Jakarta, sekarang ini sangat sulit untuk mendapatkan tanah yang luas. Walaupun ada, harganya pasti selangit. Hanya orang-orang tertentu yang dapat memperolehnya, atau yang dulu memang beruntung sudah memilikinya.
Namun kita jangan berkecil hati. Untuk mengujudkan rumah bersuasana hangat dan santai di rumah kecil, kita dapat menyiasatinya dengan menghadirkan suasana alam ke dalam ruangan. Kita dapat menghadirkan tanaman di dalam rumah serta mengisi furnitur dan aksesori dengan yang terbuat dari material alami. Material alami, seperti kayu, bambu, rotan, atau bahan-bahan alami lainnya, memang dapat menghangatkan suasana ruangan.
Furnitur dan aksesori bermaterial alami juga mahal? Ya, memang tak dapat dipungkiri, perabot dari material alami yang asli sudah jarang dan harganya tinggi. Namun jika kita sering “berburu” barang untuk kenyamanan rumah, pasti akan mendapatkannya dengan harga yang masih terjangkau. Di samping itu, kita juga dapat mengombinasikan perabot dengan yang motifnya seperti kayu, batu, atau rotan.
Kunci sukses lain dalam menata rumah agar ruangan bersuasana santai adalah dengan warna-warna yang menjadi kesukaan Anda. Umumnya warna-warna alami lebih memberikan efek santai. Namun kesukaan pada warna adalah personal, begitu juga efek psikologisnya. Jadi, Anda boleh memilihnya sesuai selera. Inspirasi ini dapat kita lihat pada majalah iDEA terbaru, edisi 84/VII/2010.
Satu lagi yang paling penting: kebersamaan dan komunikasi yang indah di antara seluruh anggota keluarga. Bagaimana mungkin rumah terasa nyaman kalau antaranggota keluarga tidak berkomunikasi dan tidak akrab?
Foto: iDEA/Ricardo De Melo