Senin, 22 November 2010
oleh: Indra Zaka Permana
Rumah tak hanya bicara bentuk, bahan, dan ruang. Ada sesuatu yang selalu terikat dengannya: karakter pengisinya.
Awalnya dahulu hunian didirikan untuk mewadahi kebutuhan berlindung dari serangan binatang, atau cuaca yang mengancam diri. Saat itu, rumah adalah bagian dari kebutuhan primer, dan menjadi sebuah kebanggaan, bahkan status sosial saat kita memilikinya.
Kini rumah tak hanya mewadahi aktivitas, tapi juga mencerminkan karakter kita. Karakter tercipta dari perilaku yang dilakukan secara kontinyu dan sadar. Perilaku tercipta dari lingkungan yang memberikan masalah untuk diselesaikan. Lingkungan yang baik, mempengaruhi perilaku yang baik. Lingkungan yang buruk atau tidak sesuai dengan kebutuhan, memberikan pengaruh buruk pada diri, minimal pada mood kita.
Ruang-ruang di rumah tak lagi tersusun berdasarkan kebutuhan yang harus diwadahi, tapi juga rasa dan atmosfer yang kita inginkan untuk mencapai kenyamanan. Ruang-ruang tak lagi berbentuk seperti pakem-pakem tradisional –dimana ruang harus mengikuti pola tertentu--, rumah kini menjadi sebuah bentuk pengekspresian diri. Tak hanya menunjukkan jati diri, tapi juga visi dan misi kita sebagai individu.
Kali ini, rumah-rumah adalah bagian dari karakter diri. Karakter yang tercermin dari ekspresi dan ciri khas perilaku individu adalah sebuah hal penting yang mempengaruhi bentuk rumah. Individu yang tercermin dalam olahan rumah yang unik dan ekspresif, bahkan individu yang sangat menghargai kebersihan, dan menghargai keberadaan alam sebagai intisari dari inspirasi mereka. Keindahan yang terlihat di mata, berawal dari keindahan yang terasa di hati.
Selamat memiliki rumah yang nyaman sepenuh hati!
Foto: iDEA/Indra Zaka Permana