Selasa, 14 Februari 2012
oleh: Agah Nugraha Muharam
Material sederhana ternyata bisa jadi sumber ide, lho. Anda bahkan bisa menyulap rumah jadi tempat komunitas.
Kawasan Hegarmanah, Bandung, barangkali tidak akan banyak terdengar jika duet Ariani Darmawan dan Oky Kusprianto tidak memulai proyek Rumah Buku (Kineruku) pada tanggal 29 Maret 2003. Proses perencanaan Kineruku cukup rendah hati. Duet arsitek Unpar ini mengolah rumah kosong seluas 70 m2 peninggalan kakek Rani. Perancangan dilakukan dengan menyuguhkan konsep suasana “rumah kedua” bagi pengunjung. Materialnyapun menggunakan bahan sederhana, murah, dan tepat guna seperti : conblock , batako, dan papan kayu.
Tahapan pertama, Rani dan Oky membuat pengalihan fungsi ruang lama menjadi fungsi baru. Kamar tidur utama disulap menjadi ruang kantor. Kamar tidur tamu menjadi ruang Audio Visual (AVI). Pengalihan fungsi ruang mengalir begitu saja. Penataan terjadi karena kebutuhan yang bertambah setiap waktu.
Rancangan rak buku terbuat dari papan dan besi bekas. Ketika koleksi semakin bertambah, dibuat rak tambahan dengan bahan papan pinus dan susunan batako yang bersifat knock down . Dengan struktur batako yang ditumpuk –tanpa kuncian, anda bisa menambah susunan sesuai kebutuhan. Dengan desain sederhana, koleksi film American Independent, art house international, dan lainnya, terpajang rapi di olahan rak besi bekas swadaya.
“Pemakaian bahan daur ulang adalah kebutuhan. Pada saat itu kami mengkonsentrasikan penggunaan modal yang kami miliki untuk membeli buku-buku. Jadi penggunakan bahan interior yang semurah mungkin menjadi keharusan,” tutur Rani. Misalnya, kap lampu menggunakan kertas-kertas daur ulang yang tadinya akan digunakan sebagai undangan pembukaan Kineruku. Kertas daur ulang ini membuat suasana menjadi homy . Di plafon ruang baca, kap lampu malah menggunakan dus penutup lampu itu sendiri.
Dengan bahan terjangkau, otomatis menekan pengeluaran. “Untuk persiapan awal, --di luar bujet beli bukunya, kami menghabiskan kurang dari dua juta rupiah. Pengeluaran terbesar, ya untuk ongkos pengerjaan rak-rak dan meja utama,” Rani menjelaskan. “Sisanya, kami memakai kursi, sofa, dan meja kecil yang sudah ada di rumah tersebut,” Tambahnya.
Berawal dari ide sederhana, Kineruku terus berkembang. Melahirkan beberapa lini baru kegiatan yang beraneka ragam dengan 1.545 anggota (tahun 2011). Selain jejaring komunitas yang erat, semangat dalam berkarya membuat Kineruku tetap bertahan.
Foto: iDEA/Licco Indrawan